Nama : Wafda Liulin Nuha
NIM : 16813040
Kelompok : 5
Hari ini, sebanyak 3600-an mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung tahun 2013 mendapat sebuah materi menarik dari Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan Indonesia saat ini. Dengan tema “Untuk Indonesia” yang diusung OSKM 2013, maka materi yang disampaikan oleh Pak Gita juga tidak jauh berbeda. Yaitu berkisar soal peranan pemuda dalam kemajuan bangsa terutama dilihat dari sektor ekonomi. Bukan hanya itu, berkali-kali Pak Gita juga menyampaikan soal pentingnya pemanfaatan budaya dan kearifan local dalam peranan untuk memajukan bangsa ini.
Semua orang juga mengetahui jika Indonesia adalah Negara yang sangat kaya. Bukan hanya kaya sumber daya alamnya saja, namun juga kaya akan kebudayaan yang beraneka ragam dan kearifan-kearifan local. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui bagaimana cara memanfaatkan kekayaan yang dimiliki Indonesia tersebut untuk membuat Indonesia mampu bersaing dengan Negara-negara besar lainnya. Padahal sesungguhnya dengan potensi sebesar itu Indonesia sangguh bersaing dengan negara besar lainnya. Sebagai tambahan, Indonesia adalah negara yang memiliki letak sangat strategis di kawasan Asia.
Kita dapat melihat contoh negara yang kini sedang berkembang pesat menancapkan pengaruh-pengaruhnya ke dunia, yaitu Cina. Bahkan perkembangan Cina terus bergerak meyakinkan dan mulai mengikis pengaruh negara adidaya dunia, Amerika. Saat ini PDB Amerika berada di tingkat 15 milyar US$, Cina mencapai angkat 8 milyar US$ dan Jepang di angka 7 milyar US$. Sedangkan Indonesia berada pada tingkat 1 milyar US$. Angka tersebut cukup untuk memberikan harapan bagi pertumbuhan Indonesia.
Namun sayangnya, apakah hasil pertumbuhan tersebut adalah hasil dari kantong-kantong merah-putih?
Jika ingin sukses, maka setidaknya kita melihat langkah-langkah kesuksesan yang dirintis oleh negara maju lainnya. Sebagai contoh adalah Korea Selatan, yang kini industrinya perlahan-lahan mulai menyebarkan pengaruhnya ke dunia. Bukan hanya dari sektor ponsel yang saat ini juga bersaing ketat dengan perusahaan besar Amerika, namun juga dari sektor industi hiburannya. Saat ini, siapa yang tidak tahu demam K-Pop?
Padahal sebelumnya, tahun 1920 Korea Selatan bukanlah negara besar. Bahkan oleh masyarakat negara lain dipandang sebelah mata. Kemudian pada tahun 1950, Korea Selatan mulai melakukan industrialisasi dengan didasari oleh reformasi agraria. Setelah reformasi agraria sukses dan perlahan mulai pesat, dimulailah difersifikasi teknologi. Muncullah ahli-ahli teknologi. Proses difersifikasi ini tentu mendapat dukungan policy penuh dari pemerintah.
Di era globalisasi saat ini, tanpa peranan teknologi yang mumpuni, akan sulit bagi sebuah negara untuk mengalami pertumbuhan yang berarti. Pada sebuah studi, disebutkan bahwa Indonesia membutuhkan peningkatan produktifitas sebesar 60% untuk bias men-sustain pertumbuhan ekonomi di angka 7% per tahun. Dan untuk meningkatkan produktifitas tersebut, dibutuhkan peranan teknologi yang besar.
Dan untuk melaksanakan pertumbuhan ekonomi tersebut, perlu dilakukan secara merata dan menyeluruh ke seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya Jakarta dan Jawa saja. Siapa bilang saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berpusat di Jakarta? Kenyataannya, Jakarta hanya mengalami 20% dari total pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Lebih rendah dari kota Bandung dan Surabaya. Tahun 2012, sebanyak 46% dari total realisasi investasi di Indonesia terjadi di luar pulau jawa. Dampaknya tentu saja akan semakin mudahnya penyatuan dan pendistribusian kesejahteraan masyarakat.
Untuk memaksimalkan hal tersebut tentu dibutuhkan teknologi dalam proses industrialisasi-industrialisasi tersebut. Yang perlu di maksimalkan lainnya adalah potensi industri hilir dimana sebagian besar adalah industry padat karya. Kenapa? Karena pada industri hilir terjadi multiplikasi nilai jual yang jauh lebih besar. Dimana saat ini industri hilir banyak dilakukan oleh negara-negara besar di dunia yang memanfaatkan hasil alam negara berkembang. Hilirisasi adalah salah satu langkah yang tepat untuk mesejahterahkan sebuah negara.
Tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia juga justru datang dari negara-negara dekat, yaitu ASEAN. Karena dengan adanya perjanjian kelonggaran perdagangan dan investasi makan banyak pemodal negara ASEAN lain yang berlomba untuk datang ke Indonesia. Jika tidak diatasi dengan baik dan bijak, tentu dapat menjadi boomerang yang dapat menghambat pertumbuhan Indonesia.
Intinya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa menjawab tantangan-tantangan jaman saat ini. Sejauh mana bisa responsif terhadap banyak pertanyaan rakyat yang beraneka. Ini tentu tidaklah mudah. Tapi dengan menjadi pemuda kreatif terampil yang melek teknologi dengan semangat kebangsaan, tentu mimpi ini bisa diraih Indonesia.
Friday, 23 August 2013
Seminar OSKM ~Ulin
09:43
No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment