Friday, 23 August 2013

Pola Pikir K3 ~Okti

Nama     : Okti Dinasakti Nurul Mentari
NIM    : 16613149
Fakultas: FTSL

Sebagai seorang mahasiswa baru atau maba, sangat penting untuk mengetahui, mempelajari, dan kemudian menerapkan pola pikir k3. Apakah pola pikir k3 tersebut?

K yang pertama adalah Kritis.

Kalo kata taplok saya, kritis versinya kbbi itu: sifat tidak mudah percaya dan selalu mencari kekeliruan. Nah apa pentingnya nih punya pola piir yang kritis? Sebagai insan akademis (apalagi anak teknik nih ya), udah seharusnya kita mulai menyortir segala informasi yang kita terima ga langsung asal telen, wong di pencernaan juga harus di cerna dulu sebelum di telen toh ya? #apasih. Ya intinya mahasiswa udah bukan remaja labil lagi, tapi udah dewasa muda udah mulai ‘berpikir’ dan ‘bertanya’ akan isu-isu yang ada disekitarnya.

Ohiya!! Dan konon ada sebuah metode observasi untuk menemukan masalah-masalah, namanya PESTEL (Politic, Economic, Social, Technology, Environment, Legal). Tujuannya adalah agar sebagai mahasiswa teknik, bisa melihat masalah dari berbagai sudut pandang berbeda sehingga bisa menilai secara objektif.

K yang kedua adalah Kreatif.

Yang dimaksud dengan kreatif disini adalah daya pikir untuk membentuk hal baru. Emang buat apa? Nah kan tadi kita udah ‘bertanya’ melalui pemikiran kritis kita tuh ya, nah ga cukup disitu yang namanya pertanyaan butuh jawaban, betul? Disinilah kita butuh kreatifitas untuk menjawab persoalan-persoalan negeri kita ini. Tanpa pola pikir kreatif nih, solusi yang muncul alhasil yang itu-itu aja, yang mainstream istilahnya dan belum tentu yang ‘arus utama’ itu merupakan solusi yang paling solutif kan? That’s why we need creativity.

Last but not least adalah K yang Konstruktif.

Apaan tuh konstruktif? Konstruktif adalah sifat membangun atau berkembang bersama. kenapa sebagai mahasiswa kita perlu punya mindset konstruktif? Agar kritik dan solusi kita bersifat membangun, bukannya menjatuhkan.

Dari ketiga pola pikir ini, yang dapat saya petik adalah bahwa yang namanya mahasiswa ga boleh tinggal diam (cuek) dalam menanggapi isu-isu yang terjadi di negeri ini, ga boleh semudahnya menerima semua hal tersebut sebelum melihat dari berbagai sisi. Serta tidak hanya mempertanyakan keadaan negeri ini tapi juga mencari jawaban atas segala pertanyaan yang ada di dalamnya. Dan terakhir, walaupun misalnya ketika bertukar pikiran dengan orang lain dan menemui persimpangan pemikiran, diharapkan bisa menghargai pendapat orang lain dan saling mengkritik dengan konstruktif. Sebagai seorang mahasiswa kinikita tidak hanya ‘pintar’ mengkritik tapi juga harus siap menerima kritik.

0 comments:

Post a Comment