Friday, 23 August 2013

Pola Pikir K3 ~Miftah


Nama : Miftahurrizki Albar
NIM : 19713223
Fakultas : SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen)
Kelompok : 5

K-3, Kritis, Kreatif, dan Konstruktif. Ini adalah kemampuan yang wajib dimiliki setiap orang untuk sukses. Setiap sifat tersebut sangat berkaitan hingga tidak dapat dipisahkan.

Kritis adalah sifat di mana seseorang tidak mudah percaya. Mudah percaya yang dimaksud adalah misalnya dalam memberikan amanah. Kita tidak bisa hanya sekedar memberikan kepercayaan kepada seseorang atau lembaga. Kita harus selektif dan teliti. Kritis juga berarti mencari-cari kekeliruan. Itu ditujukan agar kita mengetahui persis kekurangan dari orang yang akan kita percayai. Kritis juga berarti rasa keinginan tahu yang tajam. Jadi dengan sifat kritis, kita akan mengetahui betul masalah yang terjadi.

Kreatif memiliki banyak arti, misalnya mudahnya menciptakan sesuatu yang baru, memiliki kemampuan daya cipta, dan lain-lain. Jika kita akan membuat sesuatu yang baru, maka kita harus berkreatif. Kreatif ini akan membawa kita ke langkah yang inovatif. Karena kita akan menciptakan solusi yang baru, solutif yang lebih efektif, kita membutuhkan kekreatifan kita.

Konstruktif berarti membina, memperbaiki, membangun dan lain-lain. Ini juga adalah sifat penting, karena pembuatan solusi yang baik adalah solusi yang memperbaiki masalah yang ada.

Jika kritis, kreatif, dan konstruktif digabungkan, akan terbentuklah solusi yang baik. Pertama, kita lihat dan kritisi masalah yang sedang ada. Tidak hanya dari satu sisi, tapi juga dari beberapa sudut pandang. Sampai kita sudah mengetahui betul masalah yang sudah ada, kita harus membuat solusi. Solusi tersebut kita buat dengan kreatif, bisa kita memodifikasi masalah yang ada agar menjadi lebih baik, bisa kita membuat sebuah cara yang baru, cara yang lebih efektif dan mudah. Jika kita tidak berpikir kreatif, kita akan terjebak dalam cara-cara yang bisa dibilang masih kurang baik. Itu lah mengapa kreatif dibutuhkan. Tidak hanya kreatif, solusi yang kita buat juga harus konstruktif. Kreatif juga berikatan dengan konstruktif, yang artinya alangkah baiknya bila kita membuat solusi dengan cara kreatif dan solusi tersebut bersifat memperbaiki.

Sebagai contoh, masalah yang ada di sekitar saat ini, yaitu kurang memadainya tempat pendidikan di beberapa lokasi.

Yang pertama kita lakukan, yaitu kita kritisi masalah tersebut. Pertama, kita lihat sisi politik. Masalah yang terdapat pada politik bisa saja pengaliran dana BOS, atau bisa saja pada masalah keuangan sekolah tersebut yang jatuh ke tangan yang salah.

Kedua, kita cermati sisi ekonomi. Sekolah yang masih dianggap kurang layak biasanya ada di pedalaman desa. Seperti kita ketahui, perekonomian mereka masih bisa dianggap kurang karena pendapatan mereka jauh dari orang-orang kota, sehingga untuk membayar sekolah saja, mereka hanya membayar sedikit, tidak seperti sekolah dalam kota. Sehingga, saldo keuangan sekolah cenderung tidak cukup untuk membiayai perbaikan sekolah.

Ketiga, kita lihat sisi sosial. Anak-anak di pedesaan mungkin merasa biasa dengan keadaan sekolah mereka yang tidak baik, karena di beberapa rumah mereka juga memiliki kondisi yang sama. Namun, mereka tidak paham bahwa kurang memadainya fasilitas sekolah berpengaruh pada penyampaian ilmu dan perkembangan pemikiran anak. Dari sosial juga orang-orang sekitar yang kurang membantu dalam perbaikan sekolah. Namun, biasa untuk masalah orang-orang sekitar yang kurang membantu, bisa dianggap wajar karena untuk menafkahi keluarga mereka juga, mereka harus bersusah payah.

Keempat, kita lihat sisi teknologi. Jika bangunan sekolah saja sudah tidak layak, apalagi fasilitasnya. Tentu saja mereka kekurangan fasilitas yang membantu, seperti komputer. Komputer sangat berperan dalam pembinaan pemikiran yang kreatif untuk anak-anak. Selain komputer, kekurangan fasilitas juga bisa berupa pelaksanaan praktik yang kurang maksimum. Ini juga mempengaruhi daya pikir mereka, karena mereka akan berpengalaman jika mereka pernah mencobanya.

Kelima, mari kita cermati sisi lingkungan. Lingkungan dari sekolah yang kurang layak itu, biasanya lingkungannya juga kurang layak, seperti sampah yang berserakan, air yang kotor, dan lain-lain. Jelas semua itu mempengaruhi anak-anak yang sedang belajar. Mereka juga malah dikenalkan pada lingkungan yang kotor itu, sehingga inisiatif mereka untuk membangun tempat yang bersih akan kurang, karena mereka sudah terbiasa melihat lingkungan yang kotor.

Nah, kita sudah menyelesaikan tahap pengkritisan. Sekarang, kita lanjut membuat solusi. Solusi tersebut haruslah kreatif dan konstruktif. Solusi yang sudah ada seperti pendanaan BOS, kita harus membuatnya lebih baik. Bisa dengan cara transparansi aliran uang yang jelas dan umum. Untuk solusi yang belum ada, saya berpikir bahwa kita akan membuat beasiswa untuk anak-anak agar bersekolah di tempat yang layak sehingga mendapatkan pendidikan yang layak. Selain itu, saya berpikir bahwa penduduk setempat melakukan bakti masyarakat dengan merenovasi sekolah secara gotong-royong. Ini juga akan membutuhkan dana ekstra dari diknas untuk fasilitas yang baru tersebut. Solusi lain adalah membangun sekolah baru di tempat yang lebih layak lingkungannya. Namun, untuk solusi ini, bisa dikatakan susah karena membangun sekolah yang baru membutuhkan asupan dana yang cukup besar juga.

Menurut saya, solusi terbaiknya adalah penduduk setempat melakukan bakti masyarakat membersihkan lingkungan dan merenovasi sekolah dengan meminta diknas untuk dananya, dan tentu saja harus transparan pendanaannya. Selama sekolah tersebut direnovasi, anak-anak akan dipindahkan ke sekolah yang layak hanya untuk sementara dengan guru-guru juga dibawa ke sekolah sementara untuk pelatihan pengajaran yang lebih baik. Jadi, tinggal menunggu sekolah selesai direnovasi, maka mereka sudah bisa bersekolah di tempat yang sama, tapi dengan keadaan yang jauh lebih layak dari sebelumya.

0 comments:

Post a Comment