Sonia Rosliana 16013185 FMIPA
Seminar OSKM 2013 pada tanggal 23 Agustus 2013 dimoderatori oleh Maria Selena yang merupakan Putri Indonesia 2011 yang juga alumni SBM ITB, serta menghadirkan 4 narasumber yaitu Gita Wirjawan, Wanadri, Tri Mumpuni, serta Saska. Seminar ini diikuti seluruh mahasiswa baru ITB 2013 dengan isi 4 materi yang berbeda.
Pembicara pertama ialah Mentri Perdagangan RI, Gita Wirjawan yang menyampaikan eratnya semangat kemahasiswaan dengan kearifan lokal. Menurut beliau kemerdekaan bukan hanya ketika tanggal 17 Agustus setiap tahunnya tetapi juga saat kita merasa bangga akan suatu hal atau membuat sesuatu yang dapat membanggakan. Indonesia saat ini memiliki perekonomian nomor 15 di dunia. Namun pantaskah kita merasa merdeka dengan hal itu?
Faktanya, Indonesia ialah negara islam dengan populasi muslim terbesar yang bahkan dua kali lipat dari populasi muslim saudi arabia. Populasi muslim dunia ialah 23,5%, berada di posisi kedua setelah populasi kristiani. Tetapi perekonomian yang dikuasai populasi muslim hanyalah 9% dari perekonomian dunia. Seharusnya, Indonesia sebagai negara berpopulasi muslim terbesar dapat berkontribusi lebih banyak dalam menaikan presentase tersebut.k
Kita dapat maju dengan pluralisme. Kita harus bisa meng-garuda-kan diri kita sendiri dengan memanfaatkan kearifan lokal yang kita punya. Apabila kita dapat membuat dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi kita 6% pertahunnya maka sekitar 20 tahun lagi que ekonomi kita akan mencapai 600 triliun dan jikan 60%-nya kita gunakan untuk konsumsi yaitu 360 triliun rupiah, kita akan dapat menikmati hal itu. Tetapi permasalahannya adalah pasar 360 triliun itu kemungkinan besar belum merah-putih atau belum dikuasai oleh bangsa Indonesia jika keadaan kita terus stagnan. Seharusnya kita bisa mengisi pasar itu dengan barang-barang Indonesia sehingga kita dapat menikmati hasilnya.
Cara yang sebaiknya dilakukan ialah hilirisasi. Maksudnya ialah, barang ketika telah jadi dan sampai di hulu maka nilainya akan berlipat ganda. Misalkan di Indonesia ini kita memproduksi bauksit yang dikirim ke Australia untuk dijadikan alumina, disitu nilainya telah berganda 4-5 kali lipat. Lalu alumina itu dikirim ke Jepang untuk dijadikan alumunium lalu dijadikan panci maka nilainya telah berlipat menjadi 10 kali lipat. Setelah itu panci yang telah jadi dikirim kembali ke Indonesia untuk dipasarkan, maka nilainya telah menjadi 15-20 kali lipat padahal bauksitnya berasal dari Indonesia. Kita sebaiknya bisa melaksanakan hilirisasi di mana Indonesia menjadi hilir yang melakukan kegiatan produksinya sendiri untuk dikonsumsi dan diekspor. Hal itu dapat terjadi jika kita dapat mengembangkan teknologi di Indonesia ini yang memungkinkan hal tersebut dapat dilaksanakan. Kita juga harus bisa bersaing secara global.
Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjawab tantangan zamannya yang saat ini sangat kental dengan geopolitik dan responsif terhadap permintaan masyarakat yang beragam. Kita harus dapat menjadi seorang nasionalis dalam konteks penduduk dunia. Jadilah garuda-garuda yang terampil, kreatif, dan melek teknologi yang berkenegaraan. Seorang pemimpin yang bangga berbangsa dengan kearifan lokal.
Pembicara yang kedua ialah dari organisasi penjelajah Wanadri yang disampaikan oleh Indra Hidayat selaku ketua umum. Wanadri berrgerak di bidang pendidikan, penjelajahan & pengembangan pengetahuan, bakti masyarakan dan perlindungan alam. Beliau menjelaskan bahwa dengan adanya deklarasi Djuanda, luas indonesia bertambah 3 kali lipat setelah ditambahkan wilayah perairannya. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia ialah negara bahari yang lebih banyak perairan daripada daratan.
Karena banyaknya pulau-pulau di Indonesia, wujud negara kita ini amat beragam. Ada biregional yang berbatasan dengan negara lain, pesisir Indonesia yang merupakan garis pantai terpanjang ke-2 di dunia, pulau yang kurang lebih berjumlah 17.000 pulau, sungai yang beragam, kawasan kars, medan khas kawasan bersalju, dataran, dan gunung vulkanik. Dari keberagaman ini munculah suatu masalah yaitu akulturasi dan invasi budaya serta klaim wilayah, juga probabilitas bencana yang cukup besar dengan adanya ring of fire yang melewati Indonesia. Salah satu yang dilakukan Wanadri untuk mengatasi hal ini ialah melakukan ekspedisi ke pulau terluar Indonesia dan menanamkan patung Soekarno-Hatta di sana untuk menunjukkan bahwa pulau itu milik Indonesia.
Permasalahan kita saat ini juga ialah bahwa kita berorientasi pada darat padahal kita adalah negara bahari. Negara kita lebih pantas disebut negara kelautan daripada kepulauan. Namun sayangnya potensi laut kita belum banyak dimanfaatkan dan dieksplorasi sehingga Wanadri ingin mengubah hal tersebut. Wanadri memiliki sebuah motto yaitu “Sadar diri, sadar lingkungan, sadar tujuan.”.
Pembicara ketiga ialah Ibu Tri Mumpuni yaitu pemberdaya listrik di lokasi terpencil di Indonesia. Beliau telah banyak mendapat penghargaan atas jasanya itu. Awalnya ketika iya ikut suaminya ke daerah-daerah terpencil dan melihat banyak sumber daya yang sebenarnya dapat diubah menjadi listrik tetapi tidak dilakukan karena minimnya pengetahuan dan tenaga ahli di tempat-tempat terpencil.
Manusia memiliki pengetahuan (logika) dan perasaan (empati) yang ketika berinteraksi akan mewujudkan akal sehat. Kita harus berpikir dengan keseluruhan jiwa dan raga kita agar bisa mewujudkan akal sehat yang dapat membaca Indonesia dengan benar dimana Indonesia kita saat ini tengah dikuasai bangsa asing.
Definisi ekonomi ialah keadaan seimbang dinamis antara investasi dan konsumsi untuk mencapai setinggi-tingginya pertumbuhan. Semakin baik pertumbuhan maka semakin baik pula ekonomi kita. Tetapi yang harus diingat ialah bahwa pertumbuhan harus terikat pada nilai optimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat lokal dan daya dukung lingkungan setempat. Inilah yang biasanya ditinggalkan.
Untuk mengelola sumber daya dan komunitas lokal, kita memerlukan keuangan yang baik, manajemen, serta teknologi. Yang terjadi sekarang ialah bangsa asing yang telah mempunyai ketiga aspek tersebut tetapi tidak punya sumber dayanya, mereka mengambil sumber daya dari Indonesia tetapi tidak mengambil komunitas lokalnya sehingga memiskinkan mereka.
Solusinya ialah kewirausahaan sosial yang definisinya yaitu setiap orang unik, tiap orang melakukan hal yang disukainya dengan sebaik-baiknya sehingga menghasilkan hasil yang baik pula. Semakin baik hasilnya maka semakin baik pula ekonomi. Maka dengan kewirausahaan sosial muncullah definisi ekonomi yang baru yaitu ekonomi kewirausahaan sosial dimana merupakan keadaan kehidupan manusia yang mencoba membuat alternatif dalam kehidupan sosial ekonomi sehari-hari untuk menjadi manusiawi dengan cara pelurusan visi pembangunan, perubahan paradigma investasi, serta pembatasan pertumbuhan usaha.
Materi pendidikan formal saat ini adalah pro industri dan pro perdagangan global. Seharusnya kita lebih fokus kepada hal yang justru bukan materi pendidikan formal saat ini yaitu pro lingkungan dan pro masyarakat lokal yang sesuai dengan pasal 33 UUD ’45.
Pembicara yang terakhir ialah Bapak Saska yang merupakan pendiri Riset Indie yang merupakan badan riset independen yang mengkolektifkan ide-ide penelitian ranah teknologi, sosial-ekonomi, serta media lalu dipilih riset yang dianggap menarik secara subjektif untuk diwujudkan sebagai usaha.
Riset Indie ini telah melaksanakan beberapa proyek yang diantaranya ialah riset polaroid. Pada proyek polaroid itu, riset indie membeli kamera-kamera analog lama untuk diperbaiki dan dijual beserta filmnya, sayangnya usaha itu bangkrut setelah 2,5 tahun.
Proyek yang kedua ialah Animatronic. Animatronic ialah robot yang dilapisi topeng sehingga menyerupai makhluk hidup. Pada proyek ini mereka membuat animatronic alien yang dinamakan alinea dengan berkolaborasi dengan mahasiswa serta lulusan teknik elektro, teknik mesin, dan seni patung yang kebanyakan dari ITB. Disini beliau sangat menegaskan pentingnya berkolaborasi antar bidang, jangan sampai ada arogansi fakultas dan menara gading dalam diri mahasiswa ITB.
Proyek yang terakhir dan baru akan dilaksanakan ialah riset sosial-ekonomi yang dinamakan dengan “Angkot Day”, dimana pada 1 hari angkot kalapa-dago akan dibuat senyaman mungkin, tanpa “nge-tem”, dan gratis. Hal ini ditujukan untuk usaha mengurangi kemacetan di Bandung. Riset ini akan dilakukan pada bulan September.
Friday, 23 August 2013
Seminar OSKM 2013 ~Sonia
15:09
No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment