Wednesday, 21 August 2013

Kurangnya Infrastruktur Daerah


Anak SD di Banten berangkat sekolah menyeberangi jembatan tak layak pakai seperti salah satu rintangan di Benteng Takeshi.

Apa ini? Ini adalah bukti kurangnya struktur penghubung antar daerah.

Kenapa ini bisa terjadi?
  • Pembagian otonomi daerah kurang merata, susahnya masuk ke daerah terpencil.
  • Penyaluran/pembangunan kebanyakan hanya di daerah Jawa
  • Pemerintah kurang peka, kurang perhatian, dan kurang turun tangan pada permasalahan. Saat masalah sudah besar, baru terlihat.
Bila ditinjau dari segi PESTEL:

Politik.
Dalam penyelenggaraan otonomi daerah terdapat oknum-oknum yang kurang jujur dalam keuangan.

Ekonomi.
Warga tidak mampu untuk membangun fasilitas secara swadaya. Tersendatnya transportasi seperti jembatan ini menghambat perpindahan distribusi hasil tani dan barang sehingga pendapatan terbatas.

Sosial.
Kurangnya sosialisasi pemerintah di daerah yang bermasalah.

Teknologi.
Penyebaran teknologi terhambat karena faktor transportasi seperti ini sehingga masyarakat terlampau gaptek.

Legal.
Hukum di Indonesia tentang 'setiap warga negara mendapat pendidikan yang layak' seakan tidak berlaku.


Solusi-Solusi.



Solusi yang Telah Ada dan Perlu Dimodifikasi




Dibuat jembatan beton sebagai solusi jangka panjang. Karena bila berpikir 100 tahun ke depan, transportasi di sana membutuhkan infrastruktur yang kuat untuk perlintasan mobil, motor, dan moda transportasi yang lain.

Solusi yang Belum Ada dan Bisa Diwujudkan.

Dibangunnya sekolah di sisi sungai, sehingga tidak perlu menyeberang untuk berangkat sekolah.

Pembuatan jalan-jalan dan alat transportasi yang memadai. Percuma saja bila sudah ada jembatan beton tapi jalan yang ada masih rusak dan tidak layak.

Pemanfaatan sumber daya manusia dan apapun yang ada di daerah untuk pembangunan jembatan. Contohnya, pasir pembangunan ditambang dari kali tersebut. Para pekerka yang menangani pembangunan adalah penduduk di sekitar wilayah itu, sehingga bisa menciptakan lapangan kerja.

Mohon maaf apabila analisa masalah ini masih terlalu dangkal. Laman ini hanyalah edukasi semata.

Subkelompok 1:

Luqman Arifin Siswanto


Claudia Martha

Shinta Dwiyanti

Emeryllya

Kevin Pardede

Aditya P. Ardinal

Dicky Sulthon Auliya

0 comments:

Post a Comment